Pemurnian Secara Kimia


Proses pemurnian secara kimia ini, terdiri dari proses degumming, proses neutralisasi, dan proses bleaching. Proses ini disebut kimia, karena proses yang dilakukan dengan penambahan bahan kimia. Dan bila mengolah minyak kelapa sawit sebagai bahan baku, hasil yang diperoleh disebut NBDPO atau kepanjangan dari Neutralized Bleached Deodorized Palm Oil. Berikut ini flowchart untuk pemurnian secara fisika pada umumnya
Proses-proses yang terjadi dalam proses ini adalah:
1. Proses Degumming
Degumming adalah proses penghilangan gum (getah). Biasanya menggunakan asam phospat, karena asam phospat ini dapat mengikat fosfor yang merupakan komposisi getah, kemudian mengendapkannya. Proses ini disertai pemanasan untuk mengoptimalkan proses degumming, biasanya pemanasan dilakukan sampai suhu sekitar 60oC. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air saja.
Pernah dulu, sewaktu tugas akhir, seorang rekan juga melakukan percobaan degumming minyak jarak dengan menggunakan air dengan disertai pemanasan. Hasil yang menakjubkan gum berasal dari minyak jarak tersebut mengendap di bawah, dan berwarna putih, dan minyak yang dihasilkan lebih jernih. Namun, hal ini dirasa kurang efektif karena masih adanya sedikit gum dan waktu yang dibutuhkan untuk mengendapkan air dan gum-nya membutuhkan waktu yang agak lama.


2. Proses Netralisasi
Netralisasi adalah proses penambahan suatu basa ke dalam minyak untuk menetralkan minyak, karena sebelumnya minyak mengandung FFA (asam lemak bebas) yang kemudian direaksikan dengan basa kuat/larutan caustic yang akhirnya membentuk sabun. Basa kuat yang pada umumnya untuk reaksi ini adalah sodium hidroksida (NaOH) dan potassium hidroksida (KOH). Proses ini disertai dengan pemanasan sampai suhu sekitar 60oC. Namun, proses ini tidak dapat digunakan untuk FFA tinggi, karena bila proses pemurnian minyak secara kimia ini dilakukan, hasilnya akan menjadi sabun semua.
3. Proses Pengeringan
Proses pengeringan pada minyak bertujuan menguapkan terutama air dan mungkin pengotor lain yang volatile. Minyak hasil dipanaskan hingga >100oC (cukup suhu dimana air akan menguap), kemudian dalam kondisi vakum rendah. Karena bila masih ada kandungan air, maka memungkinkan terjadinya hidrolisa, yang bila bereaksi, hasil akhirnya asam lemak bebas dan menjadi digliserida atau menjadi monogliserida.
4. Proses Bleaching
Bleaching adalah memucatkan minyak atau menghilangkan komponen warna yang tidak diinginkan. Proses pemucatan ini ada 4 macam:
  1. Pemucatan dengan absorbsi : Biasanya digunakan bleaching earth (tanah pemucat) dan karbon aktif sebagai absorben.
  2. Pemucatan dengan oksidasi : Proses ini dikembangkan di industri sabun.
  3. Pemucatan dengan panas : Pada umumnya, pada suhu tinggi warna akan menjadi lebih pucat, karena zat-zat warna akan menguap. Namun proses ini, biasanya kondisi di bawah atmosfir atau vakum, karena untuk menghindari rusaknya minyak karena suhu yang terlalu tinggi.
  4. Pemucatan dengan hidrogenasi : Hal ini dilakukan dengan penambahan hidrogen, reaksi yang terjadi adalah reaksi adisi, pemecahan rantai. Misalnya untuk beta karoten yang mempunyai ikatan rangkap kemudian diadisi, warna menjadi lebih pucat.
Namun yang pada umumnya yang digunakan dalam industri refinery minyak nabati adalah pemucatan dengan menggunakan absorben, dengan tanah pemucat (bleaching earth) disertai pemanasan dan pada kondisi vakum.
Kelemahan proses pemurnian secara kimia:
  1. Tidak dapat dilakukan untuk FFA tinggi.
  2. Losses banyak.
  3. Tidak ekonomis untuk kapasitas yang besar, karena membutuhkan bahan kimia dan proses yang panjang.
  4. Produk samping yang dihasilkan memerlukan treatment yang lebih lanjut, seperti sabun yang dihasilkan perlu proses lanjut.
Oleh karena itu, ada proses fisika yang lebih simple, tapi menggunakan alat yang rumit. Namun, kedua proses ini masih digunakan, semuanya tergantung dari bahan baku, kapasitas, dan biaya. (Galz – dari berbaMinyak goreng bekas dapat diperbaiki mutunya dengan menggunakan pemurnian kembali (regenerasi). Asam lemak bebas yang merupakan hasil dari oksidasi dan hidrolisis dapat dinetralkan kembali. Selain itu perubahan dari warna dan aroma serta kontaminan lainya dapat diserap untuk mengembalikan kejernihan dari minyak itu sendiri. Cara-cara pemurnian minyak antara lain : pengendapan (sttling), pemisahan gum (degumming), pemucatan (bleaching), dan penghilangan bau (deodorisasi).
Regenerasi minyak goreng bekas dengan menggunakan senyawa karbon aktif dapat mengurangi jumlah sifat tidak menyenangkan pada minyak goreng bekas karbon aktif banyak terdapat pada tempurung kelapa yang sudah dijadikan arang aktif sebesar 80 ? 85% (Palungkun, 1993).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan minyak goreng bekas (jelantah) dan pengaruh bahan penjernih dalam memperbaiki kerusakan minyak goreng bekas. Diduga terdapat interaksi antara konsentrasi dan jenis bahan penjernih (arang aktif dan zeolit) terhadap penjernihan minyak goreng bekas. Diduga dengan penambahan arang aktif dan zeolit dapat menjernihkan minyak goreng bekas. Diduga konsentrasi bahan penjernih berpengaruh terhadap kualitas minyak goreng bekas.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian dan Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang. Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Kelompok yang disusun faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama bahan penjernih (arang aktif dan zeolit), faktor kedua konsentrasi penjernih (0%, 1%, 2%, 3%).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan bahan penjernih (arang aktif dan zeolit) dan konsentrasi penjernih terhadap minyak goreng bekas (jelantah). Perlakuan bahan penjernih berpengaruh terhadap kadar air, bilangan peroksida, bilangan iodium, bilangan penyabunan, tingkat kemerahan (a), tingkat kekuningan (b). Perlakuan konsentrasi bahan penjernih berpengaruh terhadap bilangan asam, berat jenis, viskositas, tingkat kecerahan (L). Perlakuan terbaik dihasilkan oleh kombinasi A2K3 (Zeolit 3%) dengan hasil kadar air 0,06%, bilangan asam 0,69 mgKOH/g bilangan peroksida 5,17 meq/kg, bilangan iodium 8,72mg/g, berat jenis 2,55 g/cm3, bilangan penyabunan 204,68 mg/g, viskositas 1,46 cps, tingkat kecerahan (L) 119,43 L, tingkat kemerahan 6,50 a, tingkat kekuningan 23,90 b.
Deskripsi Alternatif :

Minyak goreng bekas dapat diperbaiki mutunya dengan menggunakan pemurnian kembali (regenerasi). Asam lemak bebas yang merupakan hasil dari oksidasi dan hidrolisis dapat dinetralkan kembali. Selain itu perubahan dari warna dan aroma serta kontaminan lainya dapat diserap untuk mengembalikan kejernihan dari minyak itu sendiri. Cara-cara pemurnian minyak antara lain : pengendapan (sttling), pemisahan gum (degumming), pemucatan (bleaching), dan penghilangan bau (deodorisasi).
Regenerasi minyak goreng bekas dengan menggunakan senyawa karbon aktif dapat mengurangi jumlah sifat tidak menyenangkan pada minyak goreng bekas karbon aktif banyak terdapat pada tempurung kelapa yang sudah dijadikan arang aktif sebesar 80 ? 85% (Palungkun, 1993).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan minyak goreng bekas (jelantah) dan pengaruh bahan penjernih dalam memperbaiki kerusakan minyak goreng bekas. Diduga terdapat interaksi antara konsentrasi dan jenis bahan penjernih (arang aktif dan zeolit) terhadap penjernihan minyak goreng bekas. Diduga dengan penambahan arang aktif dan zeolit dapat menjernihkan minyak goreng bekas. Diduga konsentrasi bahan penjernih berpengaruh terhadap kualitas minyak goreng bekas.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian dan Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang. Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Kelompok yang disusun faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama bahan penjernih (arang aktif dan zeolit), faktor kedua konsentrasi penjernih (0%, 1%, 2%, 3%).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan bahan penjernih (arang aktif dan zeolit) dan konsentrasi penjernih terhadap minyak goreng bekas (jelantah). Perlakuan bahan penjernih berpengaruh terhadap kadar air, bilangan peroksida, bilangan iodium, bilangan penyabunan, tingkat kemerahan (a), tingkat kekuningan (b). Perlakuan konsentrasi bahan penjernih berpengaruh terhadap bilangan asam, berat jenis, viskositas, tingkat kecerahan (L). Perlakuan terbaik dihasilkan oleh kombinasi A2K3 (Zeolit 3%) dengan hasil kadar air 0,06%, bilangan asam 0,69 mgKOH/g bilangan peroksida 5,17 meq/kg, bilangan iodium 8,72mg/g, berat jenis 2,55 g/cm3, bilangan penyabunan 204,68 mg/g, viskositas 1,46 cps, tingkat kecerahan (L) 119,43 L, tingkat kemerahan 6,50 a, tingkat kekuningan 23,90 b.

0 comments:

Post a Comment

Kategori

Ads 468x60px

Gafar.info di Facebook

Powered by Blogger.

Pengunjung ke

SELAMAT DATANG

Selamat menikmati artikel kami dan Jangan lupa tinggalkan jempol juga komentarnya