Salam gafar.info:
Tanaman singkong menurut Departemen Pertanian, sistem budi daya tanaman singkong secara tradisional menghasilkan 8-9 tahun ton/ha. Dengan sistem galur-galur atau tumpang sari menghasilkan 22-24 ton/ha. Sementara, dengan sistem mukibat (persilangan antara singkong karet yang berumbi besar namun pahit dengan singkong jenis yang lain) menghasilkan 45 ton/ha.
Syarat utama agar tanaman singkong dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik adalah dengan memperhatikan lokasi dan struktur tanah yang digunakan untuk budi daya. Tanaman singkong dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai tinggi antara 10-1.500 m dpl, namun yang paling ideal adalah pada ketinggian 10 -700 m dpl, lebih dari itu masa panen semakin lambat.
Tanaman singkong membutuhkan kondisi iklim yang panas dan lembap dengan suhu minimal 10oC, kelembapan udara (rH) 60 -65%, dan curah hujan 700-1.500 mm/tahun. Jenis tanah yang paling ideal untuk tanaman singkong adalah alluvial, latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol, dan andosol. Teknik budi daya tanaman singkong meliputi kegiatan penyiapan bibit, penyiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan.
Pada masa pertumbuhan, kandungan karbohidrat umbi singkong semakin meningkat dan mencapai titik optimal saat umbi siap dipanen. Tanda-tanda bahwa singkong sudah waktunya dipanen adalah pertumbuhan daun mulai berkurang, warna daun mulai mongering dan sebagian besar mulai rontok dan umur tanaman sudah cukup(tergantung varietasnya).
Apabila sampai berumur 12 bulan belum dipanen, singkong tidak bertambah besar, malah kualitasnya akan menurun. Bahkan apabila pada umur 13 bulan singkong belum dipanen juga, kadar air umbi akan meningkat sedangkan kadar protein, tepung dan HCN menurun.
Untuk mengangkat singkong dari dalam tanah (panen) diperlukan cara yang tepat agar tidak banyak singkong yang rusak, patah atau tertetebas cangkul. Pada lahan yang gembur, panen singkong dilakukan dengan cara dicabut dengan tangan. Umbi yang tertinggal dapat diambil dengan menggunakan cethok atau cangkul. Sementara, pada lahan berat (tanah yang mengandung lempung), singkong dicabut dengan menggunakan kayu atau bamboo sebagai pengungkit. Kayu pengungkit diangkat dengan tangan sampai umbinya terangkat ke permukaan tanah.
Baca juga artikel sebelumnya disini ya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment